Thames [sebuah kisah perjalanan]

Penat.

Rasanya semua tulang dibadan ini mau copot. Sepertinya angin segar dan sekotak kacang pistachio hangat yang kubutuhkan saat ini. Semoga saja masih ada yang jual di sepanjang sungai Thames ini.
Sial, tak kutemukan juga bapak tua penjual pistachio langgananku. Kulirik jam ditangan tanganku, oh pantes sudah jam 23.00.
Entah mengapa, aku suka sekali jalan dan menghirup udara di Thames. Sungai dengan panjang 204 km dengan kedalaman 24 m dan merupakan sungai yang membentang membelah kota London serta menghubungkan kota London dengan dunia ini langsung kujadikan tempat favoritku.
Hihiiii… terdengar suara ketawa anak kecil di belakangku. Rupanya masih ada juga orang yang seliweran jam segini. Kubalikkan badan, ada dua orang anak kecil bermain lari-larian. Hah, teringat kembali kedua anakku. Kangen aku pada mereka. Persis seperti mereka.
Andai saja kalian masih disini, sudah pasti kalian akan berlarian-larian di ‘city on a bridge’ dan bermain-main di sepanjang sungai Thames ini.
Ayah, kangen kalian.

Tiba-tiba, kedua anak perempuan itu lewat di depanku. Menyadarkanku dari lamunan. Keduanya berkulit putih pucat, urat-uratnya terlihat jelas, hampir diseluruh wajahnya. Cantik sekali mereka. Keduanya mengenakan baju tidur putih panjang. Yang besar berambut ikal panjang. Yang Kecil, pipinya kemerah-merahan. Kedua sekarang berlari kejar-kejaran menuju pinggir sungai. Lucu sekali.

‘Hei, hati-hati, jangan main terlalu pinggir ya, nanti kalian bisa tercebur’.
Hahaha, rupanya ucapanku tidak mereka dengarkan. Yang lebih besar, malah sengaja naik ke atas pembatas. Dan.. ia loncat. Tak lama, yang kecil pun ikut melompat.. ke tengah sungai Thames.
Sontak aku teriak dan berlari menuju mereka. Panik. Aku panik.  Aku cari membabi buta ke sepanjang pinggir sungai Thames. Tapi.. mereka tidak terlihat. Dimana mereka? Apakah mereka tenggalam? Oh Tuhan, dimana mereka. Orangtuanya pasti akan sedih kehilangan mereka.
Dheg! Tiba-tiba angin meniup punukku. Sebuah pikiran melintas. Jangan-jangan, mereka.. Angel of Thames.
 gambar diambil dari sini.
Keringat membanjiri jidatku. Ah, tidak. Tidak mungkin. Teringat kembali cerita bapak penjual kacang Pistachio, ketika aku baru saja menginjakkan kaki di kota ini.
Hati-hati pak jika jalan sambil melamun di Thames. Banyak hantunya. Hahahaa. Kata bapak si penjual kacang tertawa lepas. Aku hanya tersenyum, menanggapinya. 
Yang lagi terkenal itu sekarang sering ada penampakan Thames Angels. Kemudian dia menceritakan sebuah kisah pilu. 
Pada tahun 1665 wabah penyakit pes yang disebabkan oleh tikus mulai melanda kota London. Wabah ini merenggut 30 ribu jiwa dan wabah ini hanya bisa dihentikan oleh panas atau api. Pemerintah kota London mencari cara untuk menghentikan wabah itu. 
Tiba-tiba, kebakaran besar terjadi pada tanggal 2 september 1666 selama 5 hari. Kebakaran ini menyebabkan 80 ribu jiwa tuna wisma, 13 ribu rumah musnah terbakar, kejadian ini merusak kota London seluas 400 acre. 
 gambar diambil dari sini.
Lihat itu. Lelaki itu menunjuk kearah The Great Fire Monumen. Monumen itu dibangun oleh Sir Chistopher Wren, yang mempunyai ide untuk Re-Built London, setelah peristiwa kebakaran hebat itu.
gambar diambil dari sini.
Aku pun melihat monument itu. Seperti monas, batinku. Di atas tugunya, terdapat.. hmm.. entah tembaga / emas asli yang berbentuk seperti kobaran api. 
gambar diambil dari sini.
 
Semua orang menyetujui ide beliau, lanjutnya. Tapi sayang, ide Sir Chistopher Wren itu hanya terealisasikan dengan bangunan Gereja Katedral St. Paul.
 gambar diambil dariwikipedia.
Iya, aku pun setuju akan kemegahan gereja itu. Belum pernah masuk, sih. Tapi, ketika banyak orang terkenal Inggris, termasuk wanita besi Margareth Thatcher meninggal, gereja itu digunakan untuk upacara pemakamannya, aku jadi tau geraja dengan arsitektur yang sangat megah dan bergaya klasik itu. Keren. Megah. Selain itu yang tak kalah hebatnya adalah kubahnya yang seberat 67 ton dapat berdiri kokoh, penyangganya terbuat yang rantai besi..
Sejak peristiwa itu, banyak yang bilang. Roh penasaran sering menampakkan wujudnya di sepanjang sungai Thames, salah satunya Thames Angel, lanjutnya lelaki itu. Mereka suka menampakkan disini atau di jembatan itu. Tangannya menunjuk ke Tower Bridge.
gambar diambil dari sini.
Dulu, jembatannya tidak seperti itu. Pada abad 17-18 ekonomi London meningkat tajam, kondisi ini disebabkan oleh perdagangan dan pelabuhan di London yang berkembang pesat. Tahun 1790 pelabuhan London perkembang pesat sekitar 14 ribu kapal hilir mudik setiap harinya. Akhirnya dalam jangka 100 tahun, 9 pelabuhan baru dibuat untuk menopang padatnya perdagangan dan kapal-kapal yang keluar masuk London. Jadi, dibangunlah jembatan yang bisa membuka dan menutup jika ada kapal lewat.
  
 gambar diambil dari sini.
Tapi, pada abad ke-13. London sedang kacau-kacaunya, menyebabkan banyak kaum Yahudi ingin hijrah ke Poland, tapi kapal mereka tenggelam. Sejak saat itu, sering terdengar suara tangisan atau raungan kesakitan milik orang Yahudi dari kapal yang tenggelam di tempat itu karena mereka telah disingkirkan secara paksa.
Semilir angin memaksaku kembali ke realita. Perasaan takut kembali menyerang. Sekali lagi kupastikan mencari keberadaan kedua anak perempuan itu. Tapi Nihil. Tidak terlihat apapun. Dengan paksa, kulangkahkan kaki ini cepat-cepat. Angin dingin kembali bertiup menyerang tengkukku. Merinding.
‘Ayah. Ayah. Mengapa kamu pergi. Ayo, main bersama kami di sungai Thames ini.’ 

Terdengar suara anak perempuan memanggilku. Perlahan kubalikkan badan ke arah suara itu. Ternyata dari anak yang paling besar. Kulihat kedua anakku berdiri di pembatas sungai Thames ini. Anakku yang paling besar terpeleset, dan menarik bajunya adiknya. Mereka berdua terjebur dan tak terlihat lagi. Aku pun, ikut terjun ke dalam sungai Thames.

Sementara, di Jakarta. 

Aku terbangun dari sebuah mimpi. Keringat membajiri dahiku. Jantungku berdetuk dengan hebat. Ini sudah yang beberapa kali ku alami. Bermimpi mengenai sungai Thames. Mungkin lebih tetapnya, mimpi jalan-jalan di sepanjang sungai Thames. Ingin sekali aku ke Inggris. Entah karena apa. Tapi jiwa dan raga ini menginginkannya.

Wahai jiwa yang gundah gulana. Kuharapa kau bahagia dan bertemu dengan anak-anakmu ya. Doakan aku bisa bertemu denganmu juga. Semoga saja @MisterPotatao_ID bisa membawa ku ke Inggris sana, mendengar dan melihat dengan kepala saya sendiri Sungai Thames yang melegenda. Mungkin juga bertemu denganmu disana.

End.

 —–OoOoO—–
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s