Ngabuburit di Pelabuhan.

Puasa tahun ini, Alhamdulillah dan InsyaAllah, si Kakak udah mulai puasa yang ‘agak’ panjang durasi dari tahun lalu. Sebagai orangtua yang dulu juga pernah diajarin puasa tapi bolong-bolong dari kecil udah pasti kebayang susahnya nahan lapar dan haus. Maka tugas orangtualah gimana caranya si Kakak gak terlalu mikirin rasa lapar dan haus selama Puasa.

Maka diputuskanlah kalo kita akan ngabuburit, tapi kemana?
Mikirlah bapaknya, kemana enaknya bawa anak-anak dan istri jalan-jalan tapi yang gak banyak makanan dan gak terlalu panas.

Aha!
Pelabuhan Sunda Kelapa.

Dengan iming-iming kalau akan ngeliat kapal laut yang gede dan keren-keren,  dan akan buka puasa dengan menu seafood di Muara Angke, ternyata menarik perhatiannya si Kakak dan istri, maka saat itu juga kita dadakan (bener-bener dadakan) berangkat ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Jam 4an, alhamdulillah udah sampai di pelabuhan Sunda Kelapa. Dan bener aja, begitu turun dari mobil. Si Kakak melongo-domblong-kayak-baru-aja-ngeliat-sapi-ompong ngeliat kapal laut yang segede GABAN. Tapi sayang si adek malah bobo ngantuk.

Sambil jalan-jalan, sambil cerita-cerita mengenai sejarah Sunda Kelapa :

Sunda Kelapa adalah nama sebuah pelabuhan dan tempat sekitarnya di Jakarta, Indonesia. Pelabuhan ini terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal-bakal kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527. Kala itu Kalapa, nama aslinya, merupakan pelabuhan kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan (sekarang kota Bogor) yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon. Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke-16, sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada zaman pendahulu Pajajaran, yaitu kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera (info dari wikipedia).

Dan ini dia Sunda kelapa tempo dulu.
 Perjalanan diterusin sampe ujung dari pelabuhan, capek, tapi seneng keliatannya Kakak dan istri.

Pas baliknya, ada bapak-bapak awak manggil kakak: “Kamu gak mau naik kapal, cantik?” Wah langsung aja dibalas anggukan kepala sekeluarga.

Kakak bengong. Ini kali pertama kakak naik kapal laut yang besar. “Yah, ini utk apa? Ini kok banyak banget gentong? Ini kok jemurannya disini? Trus kalo shalat dimana? Klo pipis? Klo pup?

Gak berasa waktu udah nunjuk jam 5.30an, langsung aja cabut dan jalan lagi ke Pasar Ikan Muara Angke untuk buka puasa. Cihuyy. Seafood.

Parkir mobil pas di depannya ada warung jual otak-otak ikan, langsung deh istri melancarkan jurus tawar-menawar, dan cihuy dapet murah. Gak lama adzan berkumandang. Alhamdulillah. Langsung cari tempat makan, pesen ikan bawal, cumi, udang plus otak-otak tadi, bakar di tempat.

 Kenyang!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s