Day 1: Bandara (Sebuah Photoseries #PinguToJogja)

Senin, 16 Maret 2015, Halim Perdana Kusuma.

 

Sebuah goyangan kuat menyadarkan gue dari tidur, rupanya pak supir taksi yang mencoba membangunkan gue dari tadi, terlihat dari mukanya yang udah agak kesel yang tersirat : ‘kalo-gak-bangun-juga-gue-buang-lo-di-pinggir-jalan’, melihat itu, gue sadar, tersenyum dan buru-buru membayar argo, mengambil koper di kursi belakang dan turun dari taksi.

 

Gue lihat jam tangan, ternyata baru jam 10.00, “Hmm, bisalah sebats duls” pikir gue. Akhirnya, Dunkin Donuts jadi sasaran gue, pesan kopi, donat dan sebatang rokok. Tiba-tiba, gue kepikiran sang anak, terulang lagi peristiwa tadi pagi sebelum dia berangkat sekolah, sang anak gak mau salim, matanya merah menahan tangis, dan ngacir ke mobil. Kreeek, kembali lagi teringat bunyi hati gue yang retak jadi dua. Pedih. Untung sang estri segera menenangkan hatinya dan sang anak pun akhirnya memberikan restunya kembali, “Nanti habis pulang sekolah, jangan lupa baca #PinguToJogja promise?” Kepalanya mengangguk. “Can I get a hug and kiss?” sebuah pelukan kencang dan ciuman lama di pipi mendarat. Hangatnya hati ini.

Tiba-tiba, seorang mas-mas Dunkin, menyapa gue dan menunjuk jam, yang saat itu juga menyadarkan gue, bahwa 40 menit lagi pesawat akan take off dan gue belum check-in sama sekali, maka ngacirlah gue ke dalam bandara.

 

Alhamdulillah, masih boleh masuk gate, gue pun duduk di ruang tunggu dan melihat jejeran rapi pesawat, tanpa sadar tangan gue mengambil kamera dan menuliskan pesan pertama untuk #PinguToJogja.

IMG_8363

Good Morning, @lashitamaira

Seperti janji ayah semalam akan menceritakan perjalanan aku selama 6 hari di Jogja. Mulai gambar ini dimulai ya. InsyaAllah, setiap pagi, siang dan sore tiap harinya, kalau ayah tidak sibuk, akan aku ceritakan di #PinguToJogja sebanyak-banyaknya.

Disusul dengan ini..

IMG_8367

Kak, ini pesawat aku udah dateng, kira-kira 30 menit lagi aku take-off. Doain aku ya, Ayah sayang Kakak. #PinguToJogja.

Gak lama postingan kedua ter-upload, sebuah telepon masuk rupanya dari sang estri yang mengingatkan untuk selalu hati-hati, shalat dan jangan nakal selama di Jogja. Nakal opo. Telpon sang estri pun terhenti seiring dengan suara mbak-mbak-yang-diseret-dan-dimanis-maniskan pengingat para penumpang untuk segera masuk pesawat, gue pun masuk pesawat dan beberapa menit kemudian pesawat lepas landas.

 

Satu jam kemudian gue sampai bandara Adi Sucipto, MasyaAllah udah lama banget gue gak ke Jogja, bandaranya terlihat… sama, maka berputarlah kamera gue mengambil gambar bandara sambil menuliskan postingan ketiga untuk sang anak.

IMG_8491

Hi Kak, aku tau kmu ud berkali-kali turun dan naik pesawat dari Bandara Adisutjipto ini, karena ini airport utama di daerah Yogyakarta.

Kamu tau gak siapa itu Adisutjipto? Beliau adalah pahlawan nasional negara kita.

Kak, tadinya nama bandara ini, Maguwoharjo, diambil dari nama desa tempat airport berada, nah, penggantian nama terjadi, setelah pesawat pak Adisutjipto ditembak jatuh oleh pesawat Belanda.

Alhamdulillah, pesawat aku ga delay, jadinya pas sampai bandara ini jam 12.40. Aku gak sabar, mau cerita yang lainnya. Tunggu update ayah ya, nak. Love you. #PinguToJogja

Tiba-tiba, telpon gue berbunyi, ternyata dari Kempoel (driver andalan dan juga teman dekat adik gue — Donnie — waktu sekolah di Jogja), yang bilang dirinya sudah menunggu di café Q-Talk depan pintu kedatangan.

IMG_8533

Pesan kopi (yang ternyata enak), bakar rokok, rencana pun disusun gue dan Kempoel. Bagaikan komandan strategi, Kempoel mencoret-coret sebuah kertas print, yang berisi email rencana gue di Jogja selama seminggu.

 

“Oke, ready mas. First destination, Gunung Merapi.” Kata Kempoel sambil menghirup susu (ini-anak-gak-ngopi-tapi-sukanya-minum-susu-putih-di-café-lagi) yang tentunya langsung disambut oleh mulut gue yang menganga lebar. “Buset, rencana ke Gunung Merapi gak ada di list saya, Mpoel!”

(Oke, kenapa tiba-tiba gue pakai kata “saya”, karena Kempoel ini, orangnya sopan banget).

“Ada nih!” balesnya sambil menghisap rokok. “Lah, itu kan saya tulis kalo sempet!” bales gue lagi. “Sempet kok, ayo!” dia bangun. “Merapi nih, yakin?” kata gue memelas.

Screen Shot 2015-03-26 at 11.13.28 PM

“Katanya mau lihat tempat yang seru-seru di Jogja kemarin, belum pernah kan ke Merapi? Nah, yang pertama ke Gunung Merapi dulu lah mas, sungkem sama penunggu Jogja.” Lanjutnya sambil menarik koper gue ke arah parkiran mobil, meninggalkan gue yang bengong.

 

Bukan, bukannya gak mau ke Merapi, mau banget malah, makanya gue tulis di rencana, tapi semenjak mendengar dari cerita adik dan melihat di TV tentang meletusnya gunung Merapi, gue kok agak ngeri ya.

 

Lamunan gue buyar, tiba-tiba, mobil Innova baru gres berhenti tepat di depan gue, di dalamnya Kempoel tersenyum. Gue bales senyum – maksa.

 

“To, ini liburan, udah nikmatin aja, buang semua rasa cemas, ragu, takut, tegang, dan lainnya. So, Merapi here I come. Bismillah!” hati gue berbicara.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s