Day 1: Merapi (Sebuah Photoseries #PinguToJogja)

“To, ini liburan, udah nikmatin aja, buang semua rasa cemas, ragu, takut, tegang, dan lainnya. So, Merapi here I come. Bismillah!” Hati gue berbicara terus menerus mencoba menenangkan jiwa ini. Iyes, gue mengulang sekali lagi pernyataan ini, seperti cerita gue di sini, Bukannya gue gak mau ke Merapi, tapi mendengar cerita dari adek gue yang kuliah di Jogja dan melihat di media massa mengenai gempa dan letusan hujan abu, serta larva menyala yang mengalir turun dari Merapi membuat gue menciut. Akhirnya, mungkin alam juga mendengar dan merasakan ketakutan gue, seketika itu juga hujan menguyur perjalanan gue ke Merapi. IMG_9038   “Apes iki, mas! Piye?!” tanya Kempoel mesem. “Lanjut, Mpeol! Bismillah!” kata gue yakin. Sekali lagi, alam sepertinya mencoba membantu gue meyakinkan jiwa ini. Seketika itu juga, hujannya ber-hen-ti, menyisakan bau tanah segar dan pemandangan yang indah. IMG_9363 Asli jarang-jarangkan, manusia Jakarta ngeliat yang hijau royo-royo gini. Jadilah norak, sepanjang perjalanan, gue buka kaca mobil dan menghirup sebanyak-banyaknya udara Merapi. Kira-kira, 30 menit perjalanan dari Airport, sampailah gue di pintu gerbang Wisata Merapi, dan gue diharuskan membayar 8 ribu. Dari gerbang, mobil terus menanjak mendekati lereng Merapi. Sepanjang perjalanan Kempoel bercerita mengenai sejarah Gunung Merapi, lalu bagaimana berdukanya warga di sekitaran Merapi, hampir kurang lebih 2 bulan, hujan abu merubah semuanya menjadi abu-abu, belum lagi berita penyelamatan korban Merapi yang terus masih menghantui Kempoel hingga sekarang. “Selamat datang di Merapi, mas Anto!” Kempoel tersenyum ngehek. “Kita ngapain di sini, Mpoel?” tanya gue kecut. “Mas, mau naik ke Merapinya gak?” balasnya semangat. Gue.. cuma.. bisa.. bengong, gak nyangka, akhirnya gue berada di Merapi, gunung sakral yang ceritanya sering gue dengar dari Kakek maupun Bokap gue. Komunitas Land Rover Gak lama, gue melihat jejeran mobil-mobil off-road bagus, oh, ternyata di sekitaran lereng Merapi telah dijadikan kawasan wisatawan dengan tema: ‘Napak Tilas Larva Gunung Merapi’. Hmmm, menarik. Tangan ini bergerak, mencoba merekam dan menceritakan untuk sang anak di #PinguToJogja tapi ternyata signalnya matot. Yaiyalah di lereng gunung (seharusnya cerita #PinguToJogja di Merapi ini gue tulis setelah sampai di hotel sepulang dari Merapi, tapi gak papa, gue tulis aja sekarang, biar nyambung kalian bacanya ya. Iyain aja).

IMG_8524Hai sayang, aku tau pasti kamu udah bobo, maafin aku baru sempat update lagi cerita tentang #PinguToJogja Setelah dari Airport, ayah menuju ke Gunung Merapi. Ayah beserta om Kempoel melakukan Napak Tilas (mengikuti perjalanan) Vulkanik Gunung Merapi.

Kak, gunung Merapi adalah gunung paling aktif (selalu meledak/meletus dan mengeluarkan asap dan lahar panas). Nah, terakhir Gunung Merapi meletus pada Oktober 2010, mengakibatkan lebih dari 350 orang dan hewan sekitar meninggal.

Karena posisi jalanannya yang tidak rata, jadinya ayah harus menggunakan mobil off-road untuk menuju ke lereng Gunung Merapi ini. Selamat bobo sayang, nanti aku lanjutin lagi ceritanya ya. Love you.

Dengan memberanikan diri, gue ikutan perjalanan Napak Tilas Merapi dengan menggunakan mobil dari Komunitas Land Rover dan harus membayar 300 ribu. Rutenya: Basecamp – Museum Mini Peninggalan Merapi (Sisa Hartaku) – Batu Alien – Bunker – Basecamp. Bismillah, gue memilih mobil kuning (biar bisa mencerahkan jiwa gue yang ketakutan — apeu) dan dipandu sekaligus driver, mas Riyadi yang mau dipanggil Adi atau Yadi. Kempoel duduk di depan dan gue di bangku belakang, dengan alasan bebas ingin foto-foto.

Perjalanan pertama:Museum Mini Peninggalan Merapi (Sisa Hartaku).  Baru jalan beberapa meter, gue menangis, iya nangis keluar air mata. Bukan, bukan karena gue lebay, tapi karena gue merasakan dan melihat beberapa alam lain bersedih — kesakitan, menderita. Audzubillamindzalik. Gue kuatkan hati gue dan pegangan tangan gue, karena jalanan semakin tidak beraturan membuat mobil Land Rover yang gue naikin melompat-lompat seperti kodok. Mobil berhenti di sebuah pekarangan yang tidak begitu luas, hanya 3-4 mobil off-road yang bisa parkir di situ. Tiba-tiba, gue dicolek dari belakang, iya, dicolek sama sesuatu, gue takut. Sumpah! Ternyata, yang colek adalah mas Adi. >.< “Mas, di sini jangan bengong ya, nanti saya repot!” kata mas Adi tersenyum. Sianjir, emang gue bengong, karena sepanjang perjalanan dari basecamp, gue gak tenang, gak nyaman, tapi gue gak mau nunjukin, gue diam dan mencoba menenangkan hati ini. Gue pun turun dan masuk ke Museum itu.

Lagi-lagi, begitu masuk gerbang, gue menangis, iya, segitu sensitifnya gue, merasakan sekitaran gue yang.. duh gimana ya ngejelasinnya, kalian pasti pernah merasakan berada di suatu kondisi tempat orang yang sedang meninggalkan, dukanya, sedihnya ikut masuk ke dalam hati kalian kan? Nah, perasaan gue seperti itu! Sumpah ga enak banget.

“Mas Adi, boleh gak kita lanjutin aja ke tempat selanjutnya?” rengek gue tersenyum maksa (setelah foto-foto yang mungkin gak sampe 20 menit). “Yuk!” kata mas Adi menuju mobil. “Mas, kamu nangis?” tanya Kempoel heran. Gue.. cuma.. bisa.. senyum. Perjalanan kedua : Batu Alien.

Beberapa pemandangan yang gak berhenti-hentinya gue mengucapkan Subhanallah, dan tak lama mobil menungging dan berhenti. Lah buset, ternyata parkirannya emang nungging gitu, dataran tanahnya belum sempurna / lurus. Emang sih, beberapa kali gue lihat banyak Traktor sedang entah mengaspal atau mengeruk beberapa tebing yang terlihat tidak beraturan. batu alien Gue gak tau kenapa Alien, tapi mas Adi cerita, sebuah batu besar sekali, yang bentuk seperti kepala Alien, batu itu adalah batu yang pertama kali keluar dari letupan Merapi pertama kali dan menimbulkan goncangan kuat. Menurut kalian, batu ini mirip Alien gak? “Mas, liat itu gak?” tunjuk mas Adi ke sebuah lereng hijau. Waww, sebuah lereng tempat menjadi aliran larva berjalan. Gue ambil foto dan menulis untuk sang anak di instagram #PinguToJogja. (Foto ini gue upload besoknya, maklum signal matot, tapi sekali lagi, gak papa,  gue tulis aja sekarang, biar kalian enak bacanya. Yekan). Screen Shot 2015-04-03 at 1.54.06 AM

Hai nak, aku lupa cerita, kemarin aku kan ke Gunung Merapi, tapi aku gak sampe puncaknya karena keadaan cuacana sedang gerimis, jadinya hanya sampai lerengnya saja. Kamu tau kenapa namanya Gunung Merapi? Jadi gini.. Dulu pulau Jawa itu posisinya miring, karena banyaknya populasi (manusia), untuk menyeimbangkan maka Batara Guru akan memindahkan Gunung Jamurdipa yg ada di Pantai Selatan, tapi di Gunung Jamurdipa ada 2 empu yang sedang membuat keris. Akhirnya, diutuslah Batara Narrada untuk berbicara dgn kedua empu, sesampainya di Gunung Jamurdipa, Batara Narrada marah karena kedua empu itu tidak mau dipindahkan, karena pembuatan keris yang belum selesai. Batara Narrada pun bilang kepada Batara Guru. Batara Guru marah, maka diutuslah Batara Bayu untuk meniupkan Gunung Jamurdipa dan memindahkan paksa gunung itu ke tengah2 pulau Jawa, agar pulau Jawa tidak miring. Akhirnya, pindahlah Gunung Jamurdipa itu, berikut kedua empu yang tertimpa Gunung Jamurdipa dan meninggal. Keris yang sedang dibuat kedua empu terlempar ke atas gunung, berikut perapian tempat untuk membuat keris tersebut. Maka, mengalirlah lelehan keris dari perapian itu.
Dari peristiwa itulah, Batara Narrada menamakan Gunung Merapi.
Nah, gambar ini jalur lelehan (lava) api dari perapian keris kedua empu itu.
Nanti aku lanjutkan cerita #PinguToJogja ya, aku kerja dulu, Love you.

Perjalanan ketiga : Bunker Begitu mas Adi, ngajak gue ke tempat selanjutnya, gue ngerasa aneh, gak tau kenapa, tapi sekali lagi, cuma Bismillah dan Surat Al-Ikhlas yang bisa ucapkan berkali-kali dalam hati. Perjalanan dari tempat kedua menuju ketiga, gue melihat lereng-lereng Merapi yang sangat Hijau dan penuh dengan batu-batu yang masih berantakan. Indah, kamera ini pun kembali berputar, hingga tak terasa, sudah sampai ke bunker, seketika itu juga… Kaki gue berat untuk digerakkan. >.< Bismillah yang banyak, Surat Al-Ikhlas ditambah beberapa kali ayat kursi gue baca-baca, hingga akhirnya kaki ini bisa gue gerakin lagi dan ikut ke arah mas Adi dan Kempoel jalan menuju sebuah bunker. Bunker Merapi Subhanallah, cuma kata itu yang bisa gue ucapkan. Gue menangis lagi, sebuah bisikan dan bisikan terus berdatangan di telinga gue, entah dari siapa. Terdiam, gue cuma bisa diam dan mencoba mendengarkan cerita mas Adi dengan sekuat tenaga menahan air mata ini turun perlahan. Bunker ini adalah tempat darurat yang sudah disediakan oleh pemerintah, jika sewaktu-waktu terjadi letusan atau goyangan gunung Merapi, masyarakat yang berada di sekitar lereng bisa bersembunyi di dalam bunker ini. Masuk yuk, mas! kata mas Adi. Seketika serempak gue dan Kempoel menggelengkan kepala, tanda tidak ingin masuk ke dalam. “Oh ya sudah, di dalam itu, disediakan beberapa ruangan mas, ada kamar mandi, tempat berkumpul, pokoknya seperti bunker deh.” lanjut mas Adi. Tangan gue tiba-tiba ditarik Kempoel menuju lereng Merapi. “Mas, maap saya tarik ke sini, hehehe, saya tadi merinding di bibir bunker, takut mas Anto kenapa-kenapa, jadi, waktu Merapi meletus, ada sebuah cerita mas mengenai bunker ini, ada 2 buah relawan yang ingin menolong warga sekitar, tapi tiba-tiba Merapi meletus, kedua relawan itu segera masuk ke dalam bunker. Setelah beberapa hari, pemerintah membuka bunker tersebut dari reruntuhan batu material Merapi, dua relawan itu ditemukan sudah tidak bernyawa mas, ternyata dugaan mereka salah, mereka kira hanya awan panas saja yang meletus dari Merapi, ternyata larvanya ikut juga, jadilah mereka terpangang di dalam bunker.” “Mpoel, ke lereng aja yuk!” ajak gue sedikit memohon, mas Adi cuma bengong melihat tingkah gue dan Kempoel. Gue tenangkan pikiran dan hati, maka mulailah kamera ini berputar lagi.

Waktu sudah menunjukkan jam 16.00, lama juga perjalanan Napak Tilas Merapi ini ya, tak terasa, gue pun dibawa ke basemcamp utama dan Kempoel pun membawa gue pergi menuju hotel, mungkin karena dia melihat muka gue udah gak karuan dan mata bengep. Sepanjang perjalanan gue mikir, Napak Tilas Merapi ini begitu membukakan mata dan hati gue, selama di sana, gue banyak belajar mengenai semangat, harapan dan cita-cita. Iya, belajar bukan hanya gue dapat dari manusia dan alam, tapi dari yang kasat mata, bagaimana mereka terus berpesan di telinga gue, bahwa mereka terus mempunyai harapan dan cita-cita yang mulia, yaitu mencapai hidup yang bahagia dan sempurna. Semoga kalian bahagia di alam sana, hanya doa yang dapat terucap. Al-Fatihah untuk seluruh korban gunung Merapi. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s